Adiksi Gawai Berpotensi Merusak Otak Anak

JKLPK kembali mengadakan diskusi publik dengan tema Kerusakan Otak pada Anak Akibat Adiksi Gawai pada selasa, 27 Juni 2023. Narasumber diskusi adalah dr. Nicholas Hardi, Sp. KJ yang ahli di bidang spesialis jiwa dan perilaku. dr.  Nicholas mengatakan secara spesifik bahwa anak yang kecanduan gawai memiliki potensi kerusakan otak. Menurutnya adiksi gawai bisa dilihat dari kecenderungan anak yang melakukan suatu kegiatan berulang sampai kehilangan kontrol.

Umumnya penggunaan gawai hanya dimanfaatkan untuk akses terhadap informasi, hiburan, chatting, belajar dan lain sebagainya. Namun, dengan penggunaan yang berlebih justru akan menyebabkan adiksi (kecanduan). Dengan demikian akan sulit untuk mengontrol diri dan hal ini dapat ditemukan dalam kasus aplikasi judi dan game online.

Ada berbagai faktor risiko adiksi pada remaja seperti faktor psikologis, sosial, dan faktor penggunaan gawai. Secara psikologis gawai bisa menjadi tempat nyaman bagi remaja dengan kepercayaan diri yang kurang. Karenanya ia bisa leluasa mengekspresikan dirinya. Atau dalam kasus ketika hubungan di dalam keluarganya bermasalah gawai bisa menjadi tempat pelarian alternatif. Semua kondisi itu berkaitan erat dengan pola, tujuan dan durasi penggunaan gawai pada anak.

Proses adiksi tidak muncul begitu saja. Menurut dr. Nicholas Harsi, Sp. KJ, ada proses baik dalam diri anak maupun melalui interaksi dengan orang di sekitarnya. Gejala yang mudah dikenali dari dampak adiksi gawai pada anak adalah mudah lelah setiap saat, memburuknya nilai akademik, emosi yang tidak stabil, lebih memprioritaskan bermain game, bersosialisasi secara online, menurunnya minat untuk berkegiatan yang tidak melibatkan gawai, dan lebih banyak berbicara tentang game.

Dalam bahasanya, dr. Nicholas Harsi menitikberatkan perlunya pemahaman dini mengenai adiksi pada gawai anak agar resiko dapat segera diatasi. Orang tua memiliki peran penting untuk mengatasi hal tersebut dengan membangun kesepakatan batas waktu penggunaan gawai, membuat pengingat penggunaan gawai, membuat agenda kegiatan harian, dan menghilangkan pemicu bermain game dengan membuat suasana belajar yang menyenangkan dan kondusif. Tidak lupa juga orang tua harus memperhatikan aplikasi yang digunakan di gawai. Jika orang tua mengalami kesulitan untuk mengatasi hal tersebut, maka penting mencari bantuan profesional 

Pembicara memberi catatan penting bahwa adiksi bukan sekedar pilihan anak atau tekad semata terlebih masalah kelemahan iman. Karena dibalik proses adiksi ada suatu perubahan pada otak yang dapat mengganggu kemampuan aktivitas anak. Karena itu, amat penting untuk memperhatikan pola penggunaan gawai pada anak. Seandainya ada perilaku yang cukup mengkhawatirkan maka, maka orang tua perlu untuk berdiskusi dengan anak. Begitupun dengan waktu dan aplikasi yang digunakan di mana sebisa mungkin dibicarakan terlebih dahulu. Serta penting untuk membantu anak untuk menemukan aktivitas yang bermakna dan menyenangkan selain dari gawai. dr. Nicholas Harsi menambahkan jika otak pada anak sudah berubah karena penggunaan gawai secara berlebihan, maka perlu adanya intervensi dengan mengembangkan terapi dan strategi pengobatan yang efektif.

Diskusi ini dihadiri oleh 23 peserta yang berasal dari berbagai kalangan dan dipandu oleh Ibu Susi Rio Panjaitan dari Yayaaan Rumah Anak Mandiri (Region Jabotabed). Bagi Ibu-Bapak yang tidak sempat mengikuti diskusi ini dapat menyaksikan ulang di kanal Youtube JKLPK.

IKUTI MEDIA SOSIAL JKLPK INDONESIA

Designed & Developed by Rivcore Corporation