Peringatan Hari Lingkungan Hidup Masyarakat Adat Nagasaribu bersama KSPPM

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Masyarakat Adat Nagasaribu bersama KSPPM

Setelah sekian lama Partukkoan Onan Harbangan tidak pernah lagi kami gunakan untuk rapat, maka hari ini kami patut bersyukur melalui kegiatan ini, Partukkoan Onan Harbangan ini kembali seperti dulu. Begitulah sambutan yang di sampaikan oleh Op.Samuel Simanjuntak sebagai pembuka acara perayaan hari lingkungan hidup yang jatuh pada tanggal 5 juni 2018.

Selasa 5 juni 2018, bertempat di dusun Nagasaribu, Desa Pohan Jahe, kecamatan siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara, Masyarakat Adat Nagasaribu Onan Harbangan bekerjasama dengan KSPPM merayakan hari lingkungan hidup.

Acara diawali dengan ibadah yang dibawakan oleh Pdt. Frendi Nandi Lumbantobing, M.Div.Dalam khobatnya yang diambil dari Jesaya 43:16-20, beliau mengingatkan agar masyarakat menjaga keutuhan ciptaan Tuhan, termasuk tanah dan Tumbuhan yang ada diatasnya.

Setelah acara ibadah selesai kemudian masyarakat melakukan penanaman pohon hasurian (ingul) di wilayah adat Tombak Sirambe yang selama ini dikuasai oleh PT TPL seluas 1085 Hektar.

Sangat disayangkan pada perayaan Lingkungan hidup ini Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara hanya mengirimkan satu orang penyuluh pertanian lapangan sebagai perwakilan pemerintah, yaitu Ganda Simanjuntak (PPL Desa Pohan Jahe). Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kondisi pertanian diwilayah Desa Pohan Jahe tahun ini menurut data BPS Tapanuli Utara memang berkurang. Hal itu dikarenakan curah hujan yang sangat tinggi menjelang musim panen. Belum lagi kondisi jalan yang rusak menuju Nagasaribu membuat para tengkulak (toke) jarang datang sehingga berimplikasi pada nilai harga produk pertanian masyarakat yang kurang sesuai dibandingkan desa lain. Namun demikian,beliau berjanji akan menyampaikan semua kritik,saran dan usulan masyarakat ke Dinas Pertanian Taput.

Dalam dialog tersebut secara bergantian David Raja dan Rocky Pasaribu (staf KSPPM) menyampaikan kendala-kendala yang sedang dihadapi masyarakat saat ini dalam memperjuangakan tanah adatnya. Sesuai dengan pertemuan beberapa kali dengan menteri KLHK bahwa Perda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat  menjadi syarat mutlak untuk dikeluarkanya SK Hutan Adat. Sehingga masyarakat harus lebih gigih lagi untuk berjuang.

Diakhir dialog masyarakat menyampaikan dalam tahun ini akan berkunjung (melakukan aksi) ke kantor pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara untuk mempertanyakan sejauh mana proses penyelesaian Perda Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Tapanuli Utara.

Setelah dialog selesai, ketua komunitas masyarakat adat, Ama Menak Simanjuntak, menutup acara dengan mengucapkan horas, horas, horas. Kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon diwilayah adat tombak Sirambe.

Rilis oleh Rocky Pasaribu (Staf Pengorganisasian KSPPM)