Kesiapsiagaan Inklusi

Lokakarya Kesiapsiagaan Inklusi:

Upaya Penyelamatan Diri Awal dalam Situasi Bencana di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKSA)

Indonesia mempunyai 12 jenis ancaman bencana yang tersebar di seluruh provinsi dengan rata-rata Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) sedang hingga tinggi. Dan untuk Jakarta, IRBI 2013 menunjukkan kategori sedang dengan jenis ancaman berupa banjir, kebakaran permukiman, cuaca ekstrim, longsor, abrasi, gagal teknologi, konflik sosial, epidemi dan wabah penyakit.

Tahun 2019, pemerintah merencanakan akan memasukkan pendidikan mitigasi bencana (pendidikan kebencanaan) ke kurikulum sekolah. Hal ini sebagai langkah upaya pemerintah agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman bencana yang dapat terjadi kapan pun. Dengan kesiapsiagaan lebih awal, maka dapat meminimalisir jumlah korban jiwa dan dampak kerugian lain khususnya pada manusia itu sendiri.

Sayangnya tidak ada penjelasan lebih lanjut bagaimana rencana ini diterapkan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA – dulu disebut panti asuhan), terkhususnya LKSA disabilitas, padahal mereka adalah termasuk kelompok rentan yang seharusnya mendapatkan prioritas dalam mitigasi bencana. Hal inilah yang ingin diketahui lebih lanjut oleh JKLPK melalui lokakarya bertema Upaya Penyelamatan Diri Awal dalam Situasi Krisis Bencana di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anal (LKSA).

Tujuan kegiatan  ini adalah pemahaman tentang bencana dan kesiapsiagaan bencana, menyiapkan LKSA yang sadar dan siap siaga bencana, pemahaman tentang mitigasi bencana bagi kelompok rentan (disabilitas), dan membuat rencana aksi kebijakan untuk mendukung mitigasi bencana. Lokakarya diadakan di Yayasan Pendidikan Dwtiuna Rawinala, salah satu LKSA disabilitas ganda tertua di tanah air. Peserta lokakarya sebanyak 25 orang yang berasal dari beberapa partisipan JKLPK Region Jabotabed. Fasilitator lokakarya adalah Helena Sigit dari YAKKUM Emergency Unit (YEU) Yogyakarta yang sekaligus juga sebagai Sekretaris POKJA JKLPK Indonesia.

Materi yang diberikan untuk mendukung tujuan kegiatan adalah pengetahuan dasar tentang bencana (ancaman, jenis, dan risiko), dokumen rencana cadangan, penyelamatan diri awal praktis, prinsip security and safety, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Dalam dokumen rencana cadangan, Helena Sigit, memaparkan beberapa hal pokok yang wajib dimiliki. Misalnya, mengenai titik kumpul. Maka yang harus diperhatikan untuk membuat lokasi titik kumpul adalah mudah dijangkau, aman, jarak tempuh yang mencukupi, tidak ada hambatan, dan mempunyai luas area yang cukup.

Lokakarya ditutup dengan membuat tiga rencana aksi. Pertama, masing-masing lembaga akan mengevaluasi dan memastikan fasilitas pendukung upaya penyelamatan diri apakah telah terpenuhi. Kedua, membuat dokumen rencana cadangan. Ketiga, membangun jejaring dengan pemerintah agar LKSA masuk dalam prioritas kesiapsiagaan bencana.