free html hit counter

Dampak Pandemi Terhadap Sistem Pangan Lokal

Food and Agriculture Organization (FAO) memberi peringatan tentang potensi krisis pangan dunia akibat Pandemi Covid-19. Banyak negara yang melakukan kebijakan lockdown atau pembatasan ruang gerak fisik sebagai strategi mencegah penularan Coronavirus. Pembatasan ini nyatanya mempengaruhi rantai pasok makanan seperti tersendatnya pasokan atau distribusi makanan dari produsen ke konsumen. Hal ini disadari oleh pemerintah. Presiden Jokowi telah menyiapkan cadangan logistik nasional melalui pengembangan lumbung pangan baru di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau, yang keduanya berlokasi di Kalimantan Tengah. Luas proyek baru ini mencapai 30 ribu hektare dan akan diperluas lagi mencapai 148 ribu hektare dalam dua tahun mendatang.

Terlepas dari pro dan kontra kebijakan ini, terkhususnya terkait dampaknya terhadap lingkungan, solusi lain untuk mencegah krisis pangan adalah membangun lumbung pangan lokal di masyarakat. Lumbung pangan lokal adalah bagian dari pembentukan sistem pangan lokal berbasis komunitas atau masyarakat. Konsep ini seharusnya didukung dan dikembangkan oleh negara, seperti kemudahan memperoleh bibit unggul, penyediaan lahan, kemudahan akses modal, membantu rantai distribusi tanpa melibatkan tengkulak, dan akses market place.

Lalu, bagaimana dampak Pandemi Covid-19 terhadap sistem pangan lokal? Atau konsep pangan lokal seperti apa yang cocok diterapkan pada masa Pandemi covid-19 ini dan di masa depan? Dua pertanyaan kunci akan dielaborasi lebih jauh dalam diskusi daring JKLPK bertema “Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Sistem Pangan Lokal” pada Jumat, 25 September 2020 mulai pukul 10.00 Wib melalui aplikasi zoom meeting. Untuk mendapatkan link diskusi silahkan mendaftar ke: Trisna Harahap: 0852-9640-7889 atau Sahat Pandiangan: 0812-6534-677.