free html hit counter

Bukan Moderasi Beragama, Tetapi Progresifisme Beragama

Bukan Moderasi Beragama, Tetapi Progresifisme Beragama[1]

Pada pertengahan September lalu, JKLPK mengadakan diskusi daring dengan tema “Merajut Ruang Perjumpaan Antar-Iman”. Dua narasumber yang diundang berasal dari latar belakang keilmuan agama Islam dan Kristen: Aan Anshori, koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) dari Jombang, Jawa Timur, dan Pdt. Merilyn Yohannes, koordinator JKLPK Region Kaltengsel dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Dari sekian banyak pengetahuan dan pengalaman yang diberikan narasumber dan juga peserta, ada satu ide menarik yang disampaikan oleh Aan Anshori.

Beliau memiliki formula progresif untuk anak-anak muda Islam agar tidak menjadi radikal, yaitu believe in something, take an action, dan share to the world. Sebelum mengartikan lebih jauh, Aan Anshori kurang sreg dengan term moderasi beragama yang dikembangkan Kementerian Agama. Baginya yang tepat adalah progresifisme beragama karena moderat tidak cukup tangguh melawan intoleransi. Mengapa?

Intoleransi tidak berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari proses yang panjang. Diawali dengan bias, yaitu cara berpikir yang menganggap identitas tertentu lebih baik dan unggul dibandingkan identitas lainnya. Bias adalah benih awal untuk menyampingkan perbedaan dan menonjolkan kebenaran sepihak. Jika cara berpikir seperti ini tidak dilawan, ia akan merubah bentuk menjadi stereotip dan prasangka. Kedua sikap ini jika dibiarkan akan menghasilkan diskriminasi dan itu adalah selangkah lagi munculnya aksi intoleran.

Moderasi beragama tidak sanggup menghadapi ini semuanya. Pengertian moderasi beragama oleh Kementerian Beragama adalah jalan tengah agar umat tidak menjadi ekstrem dalam mengimani ajaran agamanya. Dengan moderasi beragama orang tidak akan mudah mengafirkan orang lain. Ini tidak cukup. Moderasi beragama bisa saja menjadi alat kontra terhadap bias, tetapi bagaimana moderasi beragama menghadapi kebijakan intoleran yang menjadi pintu masuk hadirnya kekerasan terhadap hak kebebasan beragama/beribadah?

Inilah pentingnya beranjak dari moderasi ke progresifisme beragama melalui tiga kunci pengajaran tadi: believe in something, take an action, dan share to the world. Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah believe in something dan itu dimanifestasikan dalam, misalnya, bersilaturahmi ke gereja atau membantu perizinan pembangunan gereja, atau membantu gereja yang mengalami persekusi, dan membagikan pengalaman ini ke banyak orang. Mengalami perjumpaan seperti ini adalah contoh konkret untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang toleran dan ramah.

Cara ini sangat efektif untuk melawan Islamophobia yang semakin menguat belakangan ini. Terbaru adalah kasus perobekan Al-Qur’an di Norwegia dan Swedia beberapa waktu yang lalu. Atau tuduhan bahwa aksi teroris terinspirasi dari ajaran Islam, dan ini seakan diteguhkan oleh Islamic State in Iraq and Syria atau ISIS. Dan tentunya ini semua tidak benar sama sekali.

Mengalami perjumpaan antar-iman adalah cara yang paling ampuh untuk mengikis bias, stereotipe, dan prejudice. Namun, ini tidak mudah terkhususnya pada bagian aksi (action) dan publikasi (share). Jangankan muslim, anak muda Kristen saja belum tentu memiliki keberanian memasuki Masjid. Bagi seorang Muslim ia bisa dituduh kafir atau liberal. Bagi seorang Kristiani bisa dicap menduakan Tuhan.

Meskipun begitu, formula ini patut dicoba dan direplikasi, tidak hanya untuk anak-anak muda Muslim, tetapi juga bagi orang-orang Kristen. Saya percaya jika formula ini direplikasi banyak orang maka dapat mengisi ruang-ruang publik, utamanya media sosial, untuk menandingi siar kebencian. Kampanye pesan-pesan perdamaian dan toleran sudah saatnya menjangkau lebih banyak orang. Dengan begitu, orang tidak lagi mudah tersulut emosi dari setiap usaha provokasi yang dapat mengoyak kebinekaan kita. Semoga.

Penulis: Amin Siahaan

 

[1]Disarikandarihasildiskusi public JKLPK “MerajutRuanPerjumpaanAntar-Iman” pada 19 September 2020.